Kamis, 26 Desember 2013

Cerpen Unggulan

Kenanganku Bersamamu
                Ketika ku melihatmu, aku langsung terpesona. Kau begitu indah, aku begitu terikat oleh keindahanmu. Hal itu terjadi ketika kenaikan kelas 7 ke kelas 8. Mula, aku tak mengenalmu, tetapi setelah kita menjadi satu team dalam sebuah tugas, aku mulai belajar untuk mengenalmu.
            Ku tanya namamu, kau hanya menjawab dengan senyuman. Aku pun makin penasaran terhadapmu. Kau begitu tertutup, tapi ku kan berusaha membukanya. Dengan memberanikan diri, ku kenalkan diriku, “hai, aku Owen, engkau siapa?”. Lalu kau hanya terdiam dan menjawab “aku Viona”. “Viona boleh kuminta nomor teleponmu”, kau terdiam dan menyebutkan nomor teleponmu. Hatiku bergetar saat menerima nomor teleponnya.
            Semalaman aku banyak mengobrol dengannya lewat SMS. Aku menannyainya tentang kehidupannya. Di situlah aku mulai mengenalnya. Sepertinya dia sudah memiliki pasangan, tetapi aku tak perduli, yang jelas sepertinya aku sayang kepadanya.
            Hari demi hari berlalu, kuberanikan diriku untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Viona. Aku memang tak mengatakannya langsung, tetapi walaupun hanya melalui SMS kukira itu sangat berarti untukku. Dag dig dug hatiku menunggu jawaban darinya. Ternyata, penantianku tak sia-sia dia menerimaku, aku sangat bahagia.
            Kujalani hubunganku dengannya, awalnya lancar-lancar saja. Namun, sepertinya dia tak hanya denganku, dia seperti memiliki pasangan lain selain aku yang belum dia putuskan ketika kunyatakan perasaanku. Aku merasa kesal dan hampir tak bisa meredam kemarahanku. Tapi akhirnya ku diamkan saja dia dan aku akan menirunya. Itu adalah hal yang mudah bagiku.
            Aku merasa tak enak karena harus menyayangi 2 orang sekaligus. Aku tak bisa memilih antara mereka berdua. Aku menyayangi Vio dan juga Fanty. Aku bingung aku dilema. Tapi akhirnya aku putuskan Vio, karena Fanty.
            Hari-hariku yang tak lagi bersama Vio, menjadi tak begitu indah karena Fanty tak sesempurna Vio. Ia tak seindah Vio, ia tak sebaik Vio. Aku sadari aku telah bodoh memilih Fanty daripada Vio. Kurindukanmu Vio.
            Lama telah kujalani hubunganku dengan Fanty. Tetapi tak ada bahagia yang sama yang kurasakan ketika aku bersama Vio. Fanty itu indah, tapi tak seindah Vio, bagiku Vio adalah segalanya. Lama-kelamaan aku tak tahan dengan kelakuan Fanty. Lalu aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Fanty.
            Pada saat kenaikan kelas 8 ke 9, aku mengajak Vio untuk kembali bersamaku. Ternyata Vio mau, tetapi aku merasa terganggu karena Fanty tak ingin berpisah denganku, dia masih mengejar-ngejar aku, aku merasa tak nyaman karena Fanty.
            Setelah aku kembali bersama Viona, aku sudah tak memperdulikan Fanty. Tetapi aku merasa kalau Viona tak hanya denganku tetapi juga dengan orang lain yang belum dia akhiri hubungannya. Aku jadi memiliki pikiran yang buruk terhadap Viona.
            Ketika aku mengiriminya SMS tak pernah dibalasnya. Ketika bersamaku dia mengaku bahwa dia tak membawa handphone, padahal ku tahu kalau dia membawa handphone. Ku tak memperdulikan Vio, aku merasa sakit hati. Kau diamkan aku dan aku akan diamkan engkau pula.
            Tahukah engaku Vio, aku benar-benar menyayangimu, mengapa kau lakukan ini padaku? Tapi akhirnya aku kan berani untuk mengatakan untuk memutuskan hubunganku dengannya. Kuharap kau bahagia dengan keputusan ini. Aku sadar bahwa mencintaimu itu mudah, tetapi melupakanmu itu sesungguhnya hal yang menyedihkan. Semoga kau dapat bahagi walau tak bersamaku lagi. Kenangan “Viona dan Owen”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar