MINI dan
ION
Sejak saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dimana-mana kuning
mendominasi lalu berubah menjadi ungu. Sungguh hal yang menakjubkan melihat
sebuah benda kecil melayang di angkasa luas, benar-benar ingin membuatku
tertawa.
Saat itu kau panggil aku dengan sebutan Mini. Lalu kau menghilang
tanpa jejak. Ku berlari, berkeliling, berteriak mencarimu. “Ion, dimanakah
engkau? Ini aku Mini, aku mencarimu, keluarlah”. Apa yang telah terjadi, aku
tak tahu mengapa kau tak mau menemuiku Ion. Lalu aku pun pulang menunggu hari
esok untuk mencarimu kembali.
Di pagi buta, aku langsung beranjak ke kamar mandi. Tanpa menyentuh
sarapan yang dihidangkan bunda, aku pun langsung pergi. Berlari bergegas menuju
sekolahku. Ketika sampai, aku pun memasuki ruang kelas dan guruku juga masuk
bersamaan dengan membawa amplop besar yang berisi materi ulangan. Kukerjakan
ulanganku, tetapi tak ada fokus sedikit pun karena memikirkan Ion. Ujian pun
selesai, sekolah pun akhirnya juga berakhir. Inilah saatnya untuk menemui Ion.
Sesampainya di tempat itu aku langsung mencari Ion. Tiba-tiba,
“Hai, Mini ini aku Ion, apa gerangan kau kemari”, sambil kupeluk erat tubuhnya
“Aku mencarimu Ion, mengapa kemarin engkau pergi, aku benar-benar merindukanmu
Ion”. Dengan tertawa manis ia menjawab, “Hmmm, Mini aku tak pernah pergi
darimu. Aku hanya dipanggil bundaku untuk makan malam. Kau jangan bersedih aku
tetap disampingmu Mini, selalu”. Aku pun tersenyum mendengar itu.
Tak lama kemudian, handphone ku
berdering, kulihat itu dari bunda. Ku angkat telponku dan kujawab panggilan
dari bunda. Ia mengatakan aku harus pulang karena sudah sore dan ada Agnes yang
sudah menunggu di depan rumahku. Aku pun berpamitan kepada Ion, lalu pulang.
Lambaian tangannya yang hangat pun menyertaiku. Kutinggalkannya dengan senyum
manisnya.
Sesampaiku di rumah, bunda mengejutkanku ternyata tak hanya Agnes
yang berada di rumahku, tetapi juga teman-teman sekelasku. Aku teringat bahwa
hari ini adalah hari ulang- tahunku yang ke 16 tahun. Aku benar-benar terkejut
dan gembira melihat bunda dan teman-temanku ingat hari ulang tahunku. Tetapi,
aku teringat kembali pada Ion.
Di sela-sela pesta berlangsung, aku tetap memikirkan Ion. Aku ingin
ia ada di sini menemaniku di hari bahagiaku ini. Entah ada apa, aku tiba-tiba
menoleh ke jendela dan melihat Ion bersandar di pagar rumahku. Aku terkejut
melihatnya, bagaimana ia bisa tahu padahal tak ada yang memberitahunya.
Aku berlari menuju pagar dan sesampaiku disana Ion tak ada,
dimanakah engkau Ion. Aku berlari menuju tempat Ion. Dan ia tak ada
dimana-mana, lalu sesuatu mngejutkanku. Tiba-tiba ada yang menyentuhku dari
belakang, ternyata itu Ion. Kupeluk ia, dan ku bertanya bagaimana ia bisa tahu
hari ini aku berulang tahun. Dia tak menjawab hanya senyuman kecil cirihasnya
itu yang muncul. Lalu ia pergi menjauh, melayang jauh ke angkasa. Aku bersedih
dan meneteskan air mata karena ia meninggalkanku tanpa sepatah kata pun yang
diucapkannya.
Lalu terdengar suara yang memanggilku dengan keras, “Indira,
bangunlah nak, sudah pagi, tidakkah engkau harus pergi ke sekolah??”. Tiba-tiba
aku terbangun dan menyadari bahwa semua hal indah yang terjadi tadi hanyalah
sebuah mimpi. Tetapi bagiku Ion itu nyata, seperti kenyataannya memanggilku
Mini yang masih terdengar di telingaku ini. Ku akan menunggu mimpi tentang
engkau lagi Ion. I love you Ion.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar